HARUS DIMULIAKAN PEREMPUAN
Oleh : Cut Tiara Utami Putri
Sekilas ketika mendengar kata-kata perempuan ( umumnya perempuan dunia ketiga ) yang akan tergambarkan adalah sosok yang selalu tertindas, yang selalu berada di kubang penindasan, powerless, tidak mandiri dan selalu membutuhkan uluran tangan laki-laki. Perempuan dunia ketiga disebut-sebut sebagai korban budaya patriarki-budaya yang menomorsatukan laki-laki-yang salah satu bentuknya adalah tradisi adat, budaya dan agama. Contohnya seperti bangkitnya lembaga adat seperti Nagari di Sumatera Barat atau desa Pakraman di Bali.
Ini dilihat sebagai ancaman terhadap kepentingan perempuan karena meminggirkan perempuan. Berbeda dengan perempuan dari dunia pertama. Mereka dikenal mandiri, bebas, penuh karya dan berprestasi. Dalam berbagai teks perempuan dunia ketiga didefinisikan secara beragam yakni perempuan sebagai korban kekerasan laki-laki yang di nyatakan dalam esseinya Fran Hosken, korban proses kolonial seperti yang di ungkap M. Cutrufelli, korban sistem kekeluargaan yang dinyatakan Juliette Minces, dan korban proses pembangunan ekonomi yang diposisikan oleh B. Lindsay.
Namun, seiring perubahan sosial budaya, perempuan tidak lagi statis, mereka berubah secara dinamis. Bahkan memunculkan kebudayaan perempuan yang terdiferensiasi. Perubahan sosial budaya yang sebagai gerak dinamis antara berbagai komponen kebudayaan juga turut berpengaruh pada kehidupan perempuan (Ihromi, Berninghausen dan Kerstan).
Selain itu, Islam dan Eropa juga turut andil dalam mengubah perempuan secara dinamis dan lebih sadar tentang diri dan kehidupannya. Ajaran Islam misalnya, memberi kesadaran baru tentang konsep ketuhanan, hubungan antar manusia dengan lingkungan (Mustopo). Kebudayaan Eropa juga memberikan pemahaman seperti kebebasan bagi perempuan untuk mengakses pendidikan yang juga telah ikut mendorong perubahan bagi perempuan.
Keputusan untuk bersekolah sampai ke perguruan tinggi bisa menjadi simbol kemajuan. Dulu, perempuan hanya diposisikan untuk berada di ruang privat (bekerja di rumah) sehingga tidak diperlukan untuk berpendidikan yang tinggi. Cukup sekolah sampai SD saja sampai mereka bisa baca tulis. Belum lagi banyaknya perempuan Sekarang yang mulai bekerja, bahkan ada yang menjabat sebagai kepala dinas/departemen, pegawai pemerintah, anggota legislatif dengan kuota 30%-nya dan malah ada yang menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia).
Konstruksi budaya yang menempatkan perempuan hanya bekerja di rumah tidak memadai lagi. Di dalam agama (seperti Islam) perempuan juga ditempatkan pada posisi yang diperhitungkan. Mereka mempunyai hak-hak yang yang dapat membuat mereka terhindar dari sistem penindasan hak. Seperti memasukkan syarat-syarat dalam kontrak perkawinan, menempatkan perempuan dalam situasi yang lebih baik. Membatasi hak, moral dan hukum dalam perkawinan untuk memperluas hak-hak perempuan dan membatasi kekuasaan laki-laki yang sewenang-wenang. Hal-hal tersebut telah ditetapkan dengan melalui proses panjang oleh ilmuwan Islam dan banyak ahli hukum. Karena Islam mempunyai kitab suci yang tentunya tidak boleh di tafsir sembarangan.
Dalam agama Budha pun, kedudukan perempuan tak kalah diperhitungkan posisinya. Bahkan aturan bahwa institusi agama di dominasi oleh anggota laki-laki tidak berlaku. Karena pendeta perempuan juga ada.
Di dalam buku perempuan multikultural ini ada juga Essei tentang seorang perempuan yang oleh salah satu media lokal sempat disebut sebagai “ tokoh pergerakan perempuan Indonesia “. Seorang perempuan yang turut berjuang dalam memperebutkan kemerdekaan yang sempat pula mengecap pahitnya hidup di balik jeruji besi.
Bukan saja dalam proses politik, dalam dunia sastra pun, perempuan turut serta. Seperti Ayu Utami yang melambung namanya lewat karya larung dan saman. Juga Dewi Lestari yang menggebrak dunia pernovelan dengan maha karyanya Supernova. Tentu beberapa contoh di atas dapat menunjukkan kepada kita dimanakah posisi perempuan Sekarang. Perempuan yang telah bebas berekspresi dengan segala talenta yang dimilikinya. Jadi, benarlah definisi dari arti kata perempuan itu sendiri. Yakni, orang yang dihormati dan dimuliakan (sebutan yang berasal dari kata Empu, bahasa Sansekerta).
